Ada Cinta dalam Persahabatan
Cinta dan sahabat, dua hal yang tak
mudah untuk dimengerti. Terkadang bisa
diartikan berarti, namun dalam hal lain juga bisa membuat luka yang teramat
perih. Sebut saja namaku Icha. Aku adalah seseorang yang
berada di tengah-tengah cinta dan persahabatan. Kini, aku begitu merindukan kehadiran seorang kekasih, dalam
hangatnya persahabatanku dengan Anjar yang lebih tua satu tingkat dariku.
Tiga minggu di awal semester satu, aku duduk di bangku kelas XII. Aktivitas yang begitu banyak aku lalui tanpa harus memikirkan cinta, karena menurutku itu membuatku lelah dan
menyita waktuku saja.
Namun, pertemuan itu membuatku melupakan satu hal yaitu “cinta itu omong kosong”,
yang selama ini larut dalam perasaanku terhadap Bima.
Segala hal aku perjuangkan demi dirinya. Namun, jalanku tak begitu mulus untuk
mendapatkannya dan rintangan-rintangan selalu menghadapiku. Aku yang terlalu naif akan cinta, terkadang membuatku ingin menyerah dan tak ingin memperjuangkan
cinta ini.
“Ah cinta itu bukan hal
yang penting”, sering tersirat
dibenakku.
Satu bulan pun telah
berlalu, tetapi aku masih tetap dengan
perasaan yang menyiksa hatiku. Suatu malam di acara pesta ulang tahun Nita, tepatnya tanggal 23 Maret, hal
yang tak terduga terjadi, di mana secara tiba-tiba Bima datang menghampiriku.
“ Hai Icha”, ujar Bima pelan.
“Hai juga Bima”, dengan hati
deg-degan balasku.
“Ada satu hal yang
ingin aku sampaikan padamu”, ucapnya di telingaku.
“Apa yang ingin kamu sampaikan padaku?”, jawabku dengan tanda tanya besar yang ada di benakku, menanti suatu hal yang ingin dia sampaikan.
“Aku i..ngin……i..ngin..??????”, dengan terbata-bata Bima dia seperti ingin mengatakan sesuatu ke padaku.
“Ingin apa, katakan saja?”, ujarku padanya.
“Aku juga suka padamu”, ujarnya.
“Ha….? Really?”, teriakku karena rasa senang dan tak percaya berkecamuk di dalam hatiku.
“Iya. Benar”, kata Bima meyakinkan aku yang bingung bercampur bahagia.
Semenjak malam itu aku tidak pernah
melupakan kejadian itu. Yang ada di dalam pikiranku, hanyalah perasaan
bahagia karena mendapatkan cintanya. Malam itu aku dan Bima sepakat untuk memadu kasih, merajut asa dan
menggapai cita berdua. Aku belum pernah merasa sebahagia ini, aku merasa begitu
beruntung bisa dicintai oleh orang yang kucintai. Hari-hari bahagia pun mulai
kami lalui. Bima begitu indah di mataku yang membuatku lupa akan segalanya bila bersamanya. Itu juga yang
membuatku merelakan takhta hatiku dipenuhi
oleh cintanya.
Tiga bulan pun berlalu, semuanya berjalan baik-baik saja,
tak sedikit pun aku menaruh rasa curiga terhadapnya. Sampai suatu hari, aku mendengar dari temanku bahwa dia sedang hang-out bersama seorang wanita yang
tidak aku kenal. Rasa curiga dan cemburu mulai menghantui diriku yang takut
akan kehilangan dia. Namun, perlakuan manisnya kepadaku membuat hati ini luluh
terhadap sikapnya dan membuatku melupakan rasa cemburu dan kecurigaanku
kepadanya. Hingga suatu hari aku bertemu dengan dia yang sedang hang-out bersama wanita lain. Dan hal
yang aku takutkan kini terjadi juga, di mana dia lebih memilih wanita itu
dibandingkan aku, perempuan yang telah berjuang mati-matian untuk
mendapatkannya. Karena aku yang terlalu bodoh, jatuh hati pada orang yang salah
dan memberikan hatiku kepada dia yang selama ini tak pernah menyimpan rasa
cinta sedikit pun terhadapku. Kejadian itu membuatku sangat tertekan dan seakan
tak ingin melihat hari esok lagi, karena perasaanku sangat hancur oleh sikap
dan keputusannya yang lebih memilih meninggalkan aku.
“Hai... Cha”, Anjar datang menyapaku.
“Kenapa kamu menangis seperti ini?”,
tanya Anjar dengan penuh perhatian.
Aku yang bersedih tak mampu
mengungkapkan isi hatiku lagi, aku hanya memeluknya dan menangis didekapannya.
“Sabar Cha, kamu boleh cerita semuanya
kepadaku?” ujarnya menenangkan hatiku.
“Kamu benar bahwa dia memang bukan yang
terbaik untukku,” ungkapku kepada Anjar diiringi tangis yang tak terbendung.
“Maksudnya?”, ujarnya kaget tak
mengerti.
“Bima...ternyata dia hanyalah seorang
pecundang yang senang mempermainkan hatiku. Semua ucapanmu terbukti benar.
Ternyata dia tidak pernah mencintai aku Njar”, dengan suara berat diiringi tangis kuungkapkan kekesalanku pada Anjar.
“Tenang Cha masih ada aku di sini yang
selalu ada untuk kamu”, balas Anjar menenangkan hatiku sambil mendekap diriku.
Seminggu pun berlalu. Kini aku mulai mengerti bahwa cinta itu
tidak perlu untuk dipaksakan. Aku terlalu naif jika aku harus menyesal karena
telah mengenalnya. Karena dia, aku dapat merasakan hal terindah, walaupun hanya
sekejap saja. Aku terlalu bodoh hingga
aku pun tidak menyadari bahwa Anjar pun merasakan perih yang kurasa. Anjar adalah
sahabat sejatiku. Dia adalah orang yang kupercaya seutuhnya dan selalu berusaha
ada untukku. Kini, dia telah terluka karena keegoisanku yang telah salah
memilih Bima daripada dia.
Seharusnya aku tak pernah hadir di antara Bima dan dia, bila akhirnya luka ini
yang kurasakan. Andai saja kusadari dari awal, andai saja ku lebih mengerti
mereka, andai saja aku tidak jatuh hati pada Bima, Bima dan Bima.
Satu tahun telah berlalu, rasa sakit
itu pun masih terasa dan aku masih tak dapat membuka hatiku untuk orang lain.
Hingga kini dalam setiap hari-hariku selalu sepi dalam kesendirianku. Aku hanya
bisa berharap, suatu saat aku bisa memiliki kekasih lagi.
Hal yang tak aku duga, tepatnya tanggal
24 April, Anjar mengungkapkan isi hatinya padaku, dan aku sangat terkejut
dengan ucapannya. Namun, akhirnya aku memulai membuka hatiku untuk Anjar,
sahabat yang selama ini menyimpan rasa untukku. Akhirnya tanggal 24 April
menjadi hari bahagia untukku dan Anjar. Dan kita berjanji untuk bersama hingga
kita merajut hubungan pernikahan. Dan semua cerita cinta ini memberiku banyak
pelajaran bahwa belum tentu orang yang kita cintai dapat membalas rasa yang
kita berikan. Dan terkadang justru orang yang benar-benar mencintai kitalah
yang selalu bersama kita, tetapi kita yang tidak pernah menyadari dan mempedulikan
kehadirannya.
Karya: Ika Fitri Indriyastuti