Cerpen "Sang Waktu" karya Fahri Somar


Sang Waktu



Pada suatu hari saya duduk di tepi pantai yang indah, ditemani dengan secangkir kopi, saya menikmati indahnya pantai itu. Sekejap saya rasakan dingin menyelimuti tubuh saya, dengan cepat saya menoleh ke belakang mencari tahu siapa yang berada di belakang saya. Ternyata ada sesosok bayangan yang berdiri tegak di belakang saya.


Siapa kamu?”, tanya saya kepada orang itu.

“Nama saya Waktu”, jawabnya sambil mengeluarkan nada yang  agak tidak jelas.

Mau apa kamu menghampiri saya?”, saya bertanya lagi.

“Tidak, saya tidak datang menghampiri kamu, kamulah yang berjalan melewati saya”, jelas sang Waktu.


Saya terdiam sejenak merenungi perkataannya. Namun, ketika saya tersadar sang Waktu sudah menghilang dari pandangan saya.

Ah,sudahlah. Mungkin sang waktu memang selalu pergi secepat kedatangannya di dalam hidup saya. Ini bukan kali pertama sang Waktu datang mengganggu dalam wujudnya yang selalu berubah di tiap kedatangannya. Mungkin memang saya yang berjalan melewatinya tanpa dia bermaksud untuk datang menghampiri saya”, kata saya dalam hati.

Lalu dia menghilang ketika saya sudah mulai menjauh dalam jenuh.

Kadang ketika dia muncul, ingin rasanya saya hentikan sang Waktu untuk berbicara dengannya walau hanya sekejap untuk mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan saya. Mengapa kamu memberi saya usia? Mengapa semua harus beranjak tua bahkan tiada? Mengapa kamu dapat berjalan cepat namun juga terkadang berjalan perlahan? Dan mengapa kamu abadi sementara saya tidak? Ini sungguh tidak adil! Pada saatnya nanti , cepat atau lambat saya akan meninggal, sementara kamu abadi untuk selamanya.


Karya: Fahri Somar

Cerpen "Ada Cinta dalam Persahabatan" karya Ika Fitri Indriyastuti

Ada Cinta dalam Persahabatan
 

Cinta dan sahabat, dua hal yang tak mudah untuk dimengerti. Terkadang  bisa diartikan berarti, namun dalam hal lain juga bisa membuat luka yang teramat perih. Sebut saja namaku Icha.  Aku adalah seseorang yang berada di tengah-tengah cinta dan persahabatan. Kini, aku begitu merindukan kehadiran seorang kekasih, dalam hangatnya persahabatanku dengan Anjar yang lebih tua satu tingkat dariku.

Tiga minggu di awal semester satu, aku duduk di bangku kelas XII
. Aktivitas yang begitu banyak aku lalui tanpa harus memikirkan cinta, karena menurutku itu membuatku lelah dan menyita waktuku saja.

Namun, pertemuan itu membuatku melupakan satu hal yaitu cinta itu omong kosong”, yang selama ini larut dalam perasaanku terhadap Bima.

Segala hal aku perjuangkan demi dirinya. Namun, jalanku tak begitu mulus untuk mendapatkannya dan rintangan-rintangan selalu menghadapiku. Aku yang terlalu naif akan cinta, terkadang membuatku ingin menyerah dan tak ingin memperjuangkan cinta ini.
 
Ah cinta itu bukan hal yang penting”, sering tersirat dibenakku.

Satu bulan pun telah berlalu, tetapi aku masih tetap dengan perasaan yang menyiksa hatiku. Suatu malam di acara pesta ulang tahun Nita, tepatnya tanggal 23 Maret, hal yang tak terduga terjadi, di mana secara tiba-tiba Bima datang menghampiriku.

“ Hai Icha”, ujar Bima pelan.

“Hai juga Bima”, dengan hati deg-degan balasku.

Ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu”, ucapnya di telingaku.

Apa yang ingin kamu sampaikan padaku?”, jawabku dengan tanda tanya besar yang ada di benakku, menanti suatu hal yang ingin dia sampaikan.
 
“Aku i..ngin……i..ngin..??????”, dengan terbata-bata Bima dia seperti ingin mengatakan sesuatu ke padaku.

Ingin apa, katakan saja?”, ujarku padanya.

Aku juga suka padamu”, ujarnya.

Ha….? Really?”, teriakku karena rasa senang dan tak percaya berkecamuk di dalam hatiku.

Iya. Benar”, kata Bima meyakinkan aku yang bingung bercampur bahagia.

Semenjak malam itu aku tidak pernah melupakan kejadian itu. Yang ada di dalam pikiranku, hanyalah perasaan bahagia karena mendapatkan cintanya. Malam itu aku dan Bima sepakat untuk memadu kasih, merajut asa dan menggapai cita berdua. Aku belum pernah merasa sebahagia ini, aku merasa begitu beruntung bisa dicintai oleh orang yang kucintai. Hari-hari bahagia pun mulai kami lalui. Bima begitu indah di mataku yang membuatku lupa akan segalanya bila bersamanya. Itu juga yang membuatku merelakan takhta hatiku dipenuhi oleh cintanya.

Tiga bulan pun  berlalu, semuanya berjalan baik-baik saja, tak sedikit pun aku menaruh rasa curiga terhadapnya. Sampai suatu hari, aku mendengar dari temanku bahwa dia sedang hang-out bersama seorang wanita yang tidak aku kenal. Rasa curiga dan cemburu mulai menghantui diriku yang takut akan kehilangan dia. Namun, perlakuan manisnya kepadaku membuat hati ini luluh terhadap sikapnya dan membuatku melupakan rasa cemburu dan kecurigaanku kepadanya. Hingga suatu hari aku bertemu dengan dia yang sedang hang-out bersama wanita lain. Dan hal yang aku takutkan kini terjadi juga, di mana dia lebih memilih wanita itu dibandingkan aku, perempuan yang telah berjuang mati-matian untuk mendapatkannya. Karena aku yang terlalu bodoh, jatuh hati pada orang yang salah dan memberikan hatiku kepada dia yang selama ini tak pernah menyimpan rasa cinta sedikit pun terhadapku. Kejadian itu membuatku sangat tertekan dan seakan tak ingin melihat hari esok lagi, karena perasaanku sangat hancur oleh sikap dan keputusannya yang lebih memilih meninggalkan aku.

“Hai... Cha”, Anjar datang menyapaku.

“Kenapa kamu menangis seperti ini?”, tanya Anjar dengan penuh perhatian.

Aku yang bersedih tak mampu mengungkapkan isi hatiku lagi, aku hanya memeluknya dan menangis didekapannya.

“Sabar Cha, kamu boleh cerita semuanya kepadaku?” ujarnya menenangkan hatiku.

“Kamu benar bahwa dia memang bukan yang terbaik untukku,” ungkapku kepada Anjar diiringi tangis yang tak terbendung.
 
“Maksudnya?”, ujarnya kaget tak mengerti.

“Bima...ternyata dia hanyalah seorang pecundang yang senang mempermainkan hatiku. Semua ucapanmu terbukti benar. Ternyata dia tidak pernah mencintai aku Njar”, dengan suara berat diiringi tangis kuungkapkan kekesalanku pada Anjar.

“Tenang Cha masih ada aku di sini yang selalu ada untuk kamu”, balas Anjar menenangkan hatiku sambil mendekap diriku.

Seminggu pun berlalu. Kini aku mulai mengerti bahwa cinta itu tidak perlu untuk dipaksakan. Aku terlalu naif jika aku harus menyesal karena telah mengenalnya. Karena dia, aku dapat merasakan hal terindah, walaupun hanya sekejap saja. Aku terlalu bodoh  hingga aku pun tidak menyadari bahwa Anjar pun merasakan perih yang kurasa. Anjar adalah sahabat sejatiku. Dia adalah orang yang kupercaya seutuhnya dan selalu berusaha ada untukku. Kini, dia telah terluka karena keegoisanku yang telah salah memilih Bima daripada dia.

Seharusnya aku tak pernah hadir di antara Bima dan dia, bila akhirnya luka ini yang kurasakan. Andai saja kusadari dari awal, andai saja ku lebih mengerti mereka, andai saja aku tidak jatuh hati pada Bima, Bima dan Bima.

Satu tahun telah berlalu, rasa sakit itu pun masih terasa dan aku masih tak dapat membuka hatiku untuk orang lain. Hingga kini dalam setiap hari-hariku selalu sepi dalam kesendirianku. Aku hanya bisa berharap, suatu saat aku bisa memiliki kekasih lagi.

Hal yang tak aku duga, tepatnya tanggal 24 April, Anjar mengungkapkan isi hatinya padaku, dan aku sangat terkejut dengan ucapannya. Namun, akhirnya aku memulai membuka hatiku untuk Anjar, sahabat yang selama ini menyimpan rasa untukku. Akhirnya tanggal 24 April menjadi hari bahagia untukku dan Anjar. Dan kita berjanji untuk bersama hingga kita merajut hubungan pernikahan. Dan semua cerita cinta ini memberiku banyak pelajaran bahwa belum tentu orang yang kita cintai dapat membalas rasa yang kita berikan. Dan terkadang justru orang yang benar-benar mencintai kitalah yang selalu bersama kita, tetapi kita yang tidak pernah menyadari dan mempedulikan kehadirannya.


Karya: Ika Fitri Indriyastuti







Cerpen "Penyakitku Yang Membawa Cinta" karya Gerda Baransano

Penyakitku Yang Membawa Cinta


Pada suatu hari di sebuah desa, hiduplah seorang gadis miskin bersama ibunya. Untuk membeli sesuap nasi pun terkadang tidak mampu. Sejak kecil dia selalu dihina oleh teman-temannya karena dia dilahirkan tanpa ayah. Tapi itu tidak membuatnya merasa malu dan putus asa. Tapi justru itu membuatnya menjadi orang yang tegar.
Suatu hari di sekolah pada saat dia sedang mengikuti upacara bendera, tiba-tiba dia pingsan. Dan dia dibawa ke ruang UKS untuk dirawat. Sesampainya diruang UKS, dia tidak kunjung bangun dari pingsannya sehingga dia harus dirujuk ke rumah sakit. Dan setelah diperiksa oleh dokter, ternyata dia mengidap penyakit kanker darah dan divonis bahwa umurnya hanya bisa bertahan hingga umur 17 tahun.
Waktu pun berlalu tanpa terasa dirinya sekarang telah duduk di bangku SMA kelas 3. Ya, menurut perkiraan dokter inilah tahun terakhir dia dapat bertahan hidup dari penyakit yang dideritanya. Namun ternyata, apa yang dikatakan dokter tidak terjadi. Umur 17 tahun bisa dia lewati dan dia pun lulus dari SMA dengan nilai terbaik di sekolahnya.
Karena tidak memiliki uang yang cukup, akhirnya dia tidak bisa melanjutkan ke bangku kuliah. Segala upaya dia lakukan untuk mendapatkan beasiswa tapi selalu ditolak karena jatah beasiswa yang ada sudah habis dibagikan kepada orang-orang yang lain justru tidak pantas mereka terima. Namun dia tidak putus asa. Dia terus berusaha mencari jalan keluar supaya dia bisa melanjutkan ke bangku kuliah apa pun caranya.
Akhirnya sampailah dia di sebuah yayasan yang memberikan bantuan bagi orang-orang miskin. Kebetulan pemiliknya adalah seorang yang kaya dan memiliki bisnis yang sangat banyak. Tetapi, ternyata di yayasan ini juga jatah beasiswanya habis. Namun karena kebaikan pemilik yayasan ini baik hatinya akhirnya dia memberikan kesempatan kepada Unyu untuk bisa dikuliahkan di universitas yang terkenal, tetapi Unyu harus melakukan sebuah persyaratan yaitu dia harus meninggalkan keluarganya di kampung halamannya dan tinggal di rumah ketua yayasan dan dia diberikan tugas untuk merubah kelakuan anak dari ketua yayasan yang sangat nakal menjadi anak yang baik.
Waktu masuk kuliah pun tiba dan Unyu diterima di fakultas kedokteran. Itu adalah cita-citanya sejak dulu yaitu bisa meneliti bagaimana cara menyembuhkan penyakit berbahaya yang dia derita yang hingga sekarang belum ada obatnya. Kebetulan juga anak ketua yayasan yang harus dia rubah kelakuannya berkuliah di fakultas yang sama. Anak ketua yayasan ini sudah 5 tahun berkuliah di sini namun tidak kunjung selesai karena kelakuannya yang sangat buruk dan juga pemalas. Namun, karena melihat kegigihan dari Unyu yang dengan susah payah mencari jalan keluar untuk mencapai cita-citanya di tengah cobaan penyakit berbahaya yang dia derita, akhirnya anak ketua yayasan ini sadar dan menjadi rajin hingga akhirnya bisa lulus juga. Anak ketua yayasan ini ternyata selain kagum akan kegigihan Unyu ternyata juga menyimpan hati kepada Unyu. Anak ketua yayasan yang tampan ini jatuh cinta kepada Unyu. 
Akhirnya, anak ketua yayasan ini mengungkapkan isi hatinya kepada Unyu dan melamar dia. Mereka pun menikah dan berikrar untuk menjadi sepasang kekasih selamanya. 

Akan tetapi di tengah berlangsungnya acara pernikahan tiba-tiba Unyu memuntahkan darah. Penyakitnya kambuh dan harus dibawa ke rumah sakit. Anak ketua yayasan itu pun langsung berusaha untuk mencari obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit Unyu yang saat ini sedang terbaring koma. Berkat kegigihannya dia pun berhasil menemukan obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit Unyu. 

Namun, ternyata waktu tidak mengizinkan Unyu untuk bisa menunggu obat yang sedang dibawa oleh anak ketua yayasan. Unyu pun meninggal dunia dengan meninggalkan sebuah pesan kepada anak ketua yayasan.


“Sayang...rasanya hatiku tak percaya dengan fakta yang saat ini terjadi. Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah tiada. Ingin rasanya aku mengembalikan waktu saat kita masih bisa bermesraan dan bercanda tawa berdua. Namun tak mampu aku tuk melakukannya. Waktu tak lagi bisa untuk menyatukan kita berdua.
Aku tahu kamu sudah bersusah payah menemukan obat yang bisa menyembuhkan aku. Namun Tuhan berkehendak lain. Janganlah kamu sedih dan kecewa, tetapi kamu harus berusaha untuk menyembuhkan orang-orang yang bernasib sama seperti aku. Karena di luar sana masih banyak orang-orang yang menginginkan kesembuhan dari penyakit ini. Janganlah kau sesali kepergianku. Jika kau benar-benar mencintaiku, sayangilah mereka yang penyakitnya sama seperti aku dan sembuhkanlah mereka. Karena disaat mereka bisa merasakan kesembuhan, aku di surga sedang tersenyum bahagia dan bangga memiliki suami yang hebat sepertimu. Terimalah kepergianku. I love you...."


Karya: Gerda Baransano