Cerpen "Penyakitku Yang Membawa Cinta" karya Gerda Baransano

Penyakitku Yang Membawa Cinta


Pada suatu hari di sebuah desa, hiduplah seorang gadis miskin bersama ibunya. Untuk membeli sesuap nasi pun terkadang tidak mampu. Sejak kecil dia selalu dihina oleh teman-temannya karena dia dilahirkan tanpa ayah. Tapi itu tidak membuatnya merasa malu dan putus asa. Tapi justru itu membuatnya menjadi orang yang tegar.
Suatu hari di sekolah pada saat dia sedang mengikuti upacara bendera, tiba-tiba dia pingsan. Dan dia dibawa ke ruang UKS untuk dirawat. Sesampainya diruang UKS, dia tidak kunjung bangun dari pingsannya sehingga dia harus dirujuk ke rumah sakit. Dan setelah diperiksa oleh dokter, ternyata dia mengidap penyakit kanker darah dan divonis bahwa umurnya hanya bisa bertahan hingga umur 17 tahun.
Waktu pun berlalu tanpa terasa dirinya sekarang telah duduk di bangku SMA kelas 3. Ya, menurut perkiraan dokter inilah tahun terakhir dia dapat bertahan hidup dari penyakit yang dideritanya. Namun ternyata, apa yang dikatakan dokter tidak terjadi. Umur 17 tahun bisa dia lewati dan dia pun lulus dari SMA dengan nilai terbaik di sekolahnya.
Karena tidak memiliki uang yang cukup, akhirnya dia tidak bisa melanjutkan ke bangku kuliah. Segala upaya dia lakukan untuk mendapatkan beasiswa tapi selalu ditolak karena jatah beasiswa yang ada sudah habis dibagikan kepada orang-orang yang lain justru tidak pantas mereka terima. Namun dia tidak putus asa. Dia terus berusaha mencari jalan keluar supaya dia bisa melanjutkan ke bangku kuliah apa pun caranya.
Akhirnya sampailah dia di sebuah yayasan yang memberikan bantuan bagi orang-orang miskin. Kebetulan pemiliknya adalah seorang yang kaya dan memiliki bisnis yang sangat banyak. Tetapi, ternyata di yayasan ini juga jatah beasiswanya habis. Namun karena kebaikan pemilik yayasan ini baik hatinya akhirnya dia memberikan kesempatan kepada Unyu untuk bisa dikuliahkan di universitas yang terkenal, tetapi Unyu harus melakukan sebuah persyaratan yaitu dia harus meninggalkan keluarganya di kampung halamannya dan tinggal di rumah ketua yayasan dan dia diberikan tugas untuk merubah kelakuan anak dari ketua yayasan yang sangat nakal menjadi anak yang baik.
Waktu masuk kuliah pun tiba dan Unyu diterima di fakultas kedokteran. Itu adalah cita-citanya sejak dulu yaitu bisa meneliti bagaimana cara menyembuhkan penyakit berbahaya yang dia derita yang hingga sekarang belum ada obatnya. Kebetulan juga anak ketua yayasan yang harus dia rubah kelakuannya berkuliah di fakultas yang sama. Anak ketua yayasan ini sudah 5 tahun berkuliah di sini namun tidak kunjung selesai karena kelakuannya yang sangat buruk dan juga pemalas. Namun, karena melihat kegigihan dari Unyu yang dengan susah payah mencari jalan keluar untuk mencapai cita-citanya di tengah cobaan penyakit berbahaya yang dia derita, akhirnya anak ketua yayasan ini sadar dan menjadi rajin hingga akhirnya bisa lulus juga. Anak ketua yayasan ini ternyata selain kagum akan kegigihan Unyu ternyata juga menyimpan hati kepada Unyu. Anak ketua yayasan yang tampan ini jatuh cinta kepada Unyu. 
Akhirnya, anak ketua yayasan ini mengungkapkan isi hatinya kepada Unyu dan melamar dia. Mereka pun menikah dan berikrar untuk menjadi sepasang kekasih selamanya. 

Akan tetapi di tengah berlangsungnya acara pernikahan tiba-tiba Unyu memuntahkan darah. Penyakitnya kambuh dan harus dibawa ke rumah sakit. Anak ketua yayasan itu pun langsung berusaha untuk mencari obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit Unyu yang saat ini sedang terbaring koma. Berkat kegigihannya dia pun berhasil menemukan obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit Unyu. 

Namun, ternyata waktu tidak mengizinkan Unyu untuk bisa menunggu obat yang sedang dibawa oleh anak ketua yayasan. Unyu pun meninggal dunia dengan meninggalkan sebuah pesan kepada anak ketua yayasan.


“Sayang...rasanya hatiku tak percaya dengan fakta yang saat ini terjadi. Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah tiada. Ingin rasanya aku mengembalikan waktu saat kita masih bisa bermesraan dan bercanda tawa berdua. Namun tak mampu aku tuk melakukannya. Waktu tak lagi bisa untuk menyatukan kita berdua.
Aku tahu kamu sudah bersusah payah menemukan obat yang bisa menyembuhkan aku. Namun Tuhan berkehendak lain. Janganlah kamu sedih dan kecewa, tetapi kamu harus berusaha untuk menyembuhkan orang-orang yang bernasib sama seperti aku. Karena di luar sana masih banyak orang-orang yang menginginkan kesembuhan dari penyakit ini. Janganlah kau sesali kepergianku. Jika kau benar-benar mencintaiku, sayangilah mereka yang penyakitnya sama seperti aku dan sembuhkanlah mereka. Karena disaat mereka bisa merasakan kesembuhan, aku di surga sedang tersenyum bahagia dan bangga memiliki suami yang hebat sepertimu. Terimalah kepergianku. I love you...."


Karya: Gerda Baransano

Tidak ada komentar:

Posting Komentar